|
|
comments (2)
|
“ Bahan Kuliah Siap Saji!! LUAR BIASA? .........apa itu?! saya punya persembahan istimewa buat anda, khususnya teman-teman dosen muda! Gak Pake ribet segala !”
SALAM SEJAHTERA

Perkenalkan
Saya:IGB RAI UTAMA, SE., MMA., MA.
adalah: LEKTOR Manajemen Pada sebuah PTS di Bali, ingin membagikan Bahan Kuliah
Sistem informasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem di dalam suatu organisasi yang merupakan kombinasi dari orang-orang, fasilitas, teknologi, media prosedur-prosedur dan pengendalian yang ditujukan untuk mendapatkan jalur komunikasi penting, memproses tipe transaksi rutin tertentu, memberi sinyal kepada manajemen dan yang lainnya terhadap kejadian-kejadian internal dan eksternal yang penting dan menyediakan suatu dasar informasi untuk pengambilan keputusan
KOMPONEN DAN EVALUASI MANAGEMEN STRATEGIK , ANALISIS LINGKUNGAN MAKRO , ANALISIS LINGKUNGAN INDUSTRI DAN PESAING , KEKUATAN DAN KELEMAHAN PERUSAHAAN , MATRIKS PERTUMBUHAN PANGSA PASAR , MATRIKS DAYA TARIK INDUSTRI , MATRIKS DAUR KEHIDUPAN INDUSTRI , MATRIK KEUNGGULAN ASUHAN , MISI PERUSAHAAN , STRATEGI PERTUMBUHAN , STRATEGI PENYEHATAN PERUSAHAAN DAN DIVESTASI , PENYAKIT PSIKOLOGIS PERUSAHAAN , KEUNGGULAN BIAYA DAN DIFFERENSIASI : ANALISIS STATIS DAN DINAMIS , STRATEGI BERSAING PERUSAHAAN DOMINAN
Modul 1: PENGANTAR: APAKAH PENELITIAN ITU? Modul 2: RAGAM PENELITIAN Modul 3: UNSUR-UNSUR PROPOSAL PENELITIAN Modul 4: PERUMUSAN PERMASALAHAN Modul 5: PENULISAN TINJAUAN PUSTAKA
Definisi: Bentuk Pariwisata Pariwisata Individu & Kolektif Pariwisata Jangka Panjang, Pendek & ekskursi Pariwisata dengan alat angkutan Pariwisata Aktif & Pasif Untuk dapat mengembangkan suatu kawasan menjadi kawasan pariwisata ada lima unsur yang harus dipenuhi seperti dibawah ini: 1. Attractions atau Hal-hal yang menarik perhatian para wisatawan. 2. Facilities: atau fasilitas-fasilitas yang diperlukan. 3. Infrastructure atau Infrastruktur 4. Transportation: jasa-jasa pengangkutan 5. Hospitality: Keramah-tamahan atau kesediaan untuk menerima tamu. 6. Capital: Permodalan ARGUMEN-ARGUMEN KONTRA PARIWISATA (Kajian Makro Ekonomi) 1. Multiplier (Pelipatganda) 2. Neraca Pembayaran (Import-Export) 3. Kebijakan (subsidi) 4. Lingkungan 5. Dampak Sosbud

|
|
comments (1)
|
QUALITATIVE OR QUANTITATIVE TOURISM INDUSTRY ANALYSIS
(Data Analysis)
Tourism Method Research
Oleh
I GUSTI BAGUS RAI UTAMA
Pendahuluan
1.1 Paradigma
Di tengah perdebatan tentang kemandirian pariwisata sebagai sebuah ilmu mandiri, banyak kalangan bertanya-tanya, paradigma mana yang dipakai oleh pariwisata dalam memilih alat analisis untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi pada pariwisata. Ada yang berpendapat bahwa ilmu pariwisata menggunakan paradigma ilmu social dan ada pula yang menggunakan peradigma semi sain yakni ilmu ekonomi yang cenderung lebih mengarah kuantitatif.
1.2 Ontologi
Aspek ontologi dari ilmu pariwisata menguak hakekat perjalanan wisata, gejala-gejala pariwisata, karakteristik wisatawan, prasarana dan sarana wisata, tempat-tempat serta daya tarik destinasi yang dikunjungi, sistem dan organisasi, dan kegiatan bisnis terkait, serta komponen pendukung di daerah asal maupun di sebuah destinasi wisata.
1.3 Aksiologi
Sementara aspek aksiologi dari ilmu pariwisata adalah memberikan manfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Perjalanan dan pergerakan wisatawan adalah salah satu bentuk kegiatan dasar manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang beragam, baik dalam bentuk pengalaman, pencerahan, penyegaran fisik dan psikis maupun dalam bentuk aktualisasi diri.
Sementara kontribusi pariwisata untuk pembangunan ekonomi pada beberapa negara yang telah mengembangkan sektor pariwisata, terbukti bahwa sektor pariwisata secara internasional berkontribusi nyata terhadap penciptaan peluang kerja, penciptaan usaha-usaha terkait pariwisata seperti usaha akomodasi, restoran, klub, taxi, dan usaha kerajinan seni souvenir.
Lebih lanjut, menurut UN-WTO, pariwisata telah menjadi industri terbesar dan memperlihatkan pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun. Kontribusi pariwisata yang lebih konkret bagi kesejahteraan manusia dapat dilihat dari implikasi-implikasi pergerakan wisatawan, seperti meningkatnya kegiatan ekonomi, pemahaman terhadap budaya yang berbeda, pemanfaatan potensi sumberdaya alam dan manusia.
1.4 Epistimologi
Namun Aspek epistemologi ilmu pariwisata dapat ditunjukkan pada cara-cara pariwisata memperoleh kebenaran ilmiah, objek ilmu pariwisata didasarkan pada logika berpikir yang rasional dan dapat diuji secara empirik. Dalam memperoleh kebenaran ilmiah dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan kualitatif atau kuantitatif dan atau sangat tergantung dengan permasalahan yang akan dipecahkan, tapi pada ilmu pariwisata itu sendiri, pendekatan pemecahan permasalahan pariwisata dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, yakni:
(1) Pendekatan system: Pendekatan ini menekankan bahwa pergerakan wisatawan, aktivitas masyarakat yang memfasilitasi serta implikasi kedua-duanya terhadap kehidupan masyarakat luas merupakan kesatuan yang saling berhubungan “linked system” dan saling mempengaruhi. Setiap terjadinya pergerakan wisatawan akan diikuti dengan penyediaan fasilitas wisata dan interaksi keduanya akan menimbulkan pengaruh logis di bidang ekonomi, social, budaya, ekologi, bahkan politik. Sehingga, pariwisata sebagai suatu system akan digerakkan oleh dinamika subsistemnya, seperti pasar, produk, dan pemasaran. Pendelatan yang kedua, yakni; (2) Pendekatan Kelembagaan: Pendekatan kelembagaan adalah dimana setiap perjalanan wisata akan melibatkan wisatawan sebagai konsumen, penyedia sebagai supplier jasa transportasi, penyedia jasa akomodasi atau penginapan, serta kemasan atraksi atau daya tarik wisata. Kesemua komponen ini memiliki hubungan fungsional yang menyebabkan terjadinya kegiatan perjalanan wisata, dan jika salah satu dari komponen di atas tidak menjalankan fungsinya maka kegiatan perjalanan tidak akan berlangsung. Dan pendekatan yang terakhir adalah (3) Pendekatan Produk: Pendekatan yang digunakan untuk mengkategorikan bahwa pariwisata sebagai suatu komoditas yang dapat dijelaskan aspek-aspeknya yang sengaja diciptakan untuk merespon kebutuhan masyarakat. Pariwisata adalah sebuah produk kesatuan totalitas dari empat aspek dasar yakni; Menurut Medlik, 1980 (dalam Ariyanto 2005), ada empat aspek (4A) yang harus dipenuhi produk pariwisata sebagai sebuah totalitas produk, yakni: (1)Attractions (daya tarik); (2)Accesability (transportasi); (3)Amenities (fasilitas); (4)Ancillary (kelembagaan)
Sedangkan metode yang dapat digunakan untuk mencari kebenaran ilmiah ilmu pariwisata seperti (1) metode eksploratif dari jenis penelitian eksploratori (exploratory research) dan metode membangun teori (theory-building research) (2) kuantitatif (3) kualitatif (4) studi komparatif (5) eksploratif (6) deskriptif dan metode lainnya sesuai dengan permasalah dan tujuan penelitiannya.
Pembahasan: Tourism, Qualitative or Quantitative?2.1 Qualitative is Social Approach
2.1.1 Filosofis
Dalam penelitian sosial, masalah penelitian, tema, topik, dan judul penelitian berbeda secara kualitatif maupun kuantitatif. Baik substansial maupun materil kedua penelitian itu berbeda berdasarkan filosofis dan metodologis. Masalah kuantitatif lebih umum memiliki wilayah yang luas, tingkat variasi yang kompleks namun berlokasi dipermukaan atau tidak mendalam. Akan tetapi masalah-masalah kualitatif berwilayah pada ruang yang sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun memiliki kedalaman bahasan yang tak terbatas.
Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (creswell, 1998:15). Sementara menurut Bogdan dan taylor (moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Lebih lanjut, penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.
2.1.2 Jenis-jenis Penelitian Kualitatif dan Analisis Datanya
Penelitian kualitatif saat ini dikelompokkan menjadi lima jenis penelitian, yaitu:
BiografiPenelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap turning point moment atau epipani yaitu pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya sendiri. Sedangkan teknik analisis data jenis Biografi dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:
Mengorganisir file pengalaman objektif tentang hidup responden seperti tahap perjalanan hidup dan pengalaman. Tahap tersebut berupa tahap kanak-kanak, remaja, dewasa dan lansia yang ditulis secara kronologis atau seperti pengalaman pendidikan, pernikahan, dan pekerjaan.Membaca keseluruhan kisah kemudian direduksi dan diberi kode.Kisah yang didapatkan kemudian diatur secara kronologis.Selanjutnya peneliti mengidentifikasi dan mengkaji makna kisah yang dipaparkan, serta mencari epipani dari kisah tersebut.Peneliti juga melihat struktur untuk menjelaskan makna, seperti interaksi sosial didalam sebuah kelompok, budaya, ideologi, dan konteks sejarah, kemudian memberi interpretasi pada pengalaman hidup individu.Kemudian, riwayat hidup responden di tulis dengan berbentuk narasi yang berfokus pada proses dalam hidup individu, teori yang berhubungan dengan pengalaman hidupnya dan keunikan hidup individu tersebut.
FenomenologiPenelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden. Sedangkan teknik analisis data jenis Fenomenologi dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:
Peneliti memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh tentang fenomena pengalaman yang telah dikumpulkan.Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai data yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean data.Menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh responden dengan melakukan horizonaliting yaitu setiap pernyataan pada awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat repetitif atau tumpang tindih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanya horizons (arti tekstural dan unsur pembentuk atau penyusun dari phenomenon yang tidak mengalami penyimpangan).Pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis gambaran tentang bagaimana pengalaman tersebut terjadi.Selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari fenomena tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut. Kemudian mengembangkan textural description (mengenai fenomena yang terjadi pada responden) dan structural description (yang menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi).Peneliti kemudian memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai fenomena tersebut.Membuat laporan pengalaman setiap partisipan. Setelah itu, gabungan dari gambaran tersebut ditulis.
Grounded theoryWalaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu . Situasi di mana individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Inti dari pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa dipelajari. Sedangkan teknik analisis data jenis grounded theory dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:
Mengorganisir dataMembaca keseluruhan informasi dan memberi kode.Open coding, peneliti membentuk kategori informasi tentang peristiwa dipelajari.Axial coding, peneliti mengidentifikasi suatu peristiwa, menyelidiki kondisi-kondisi yang menyebabkannya, mengidentifikasi setiap kondisi-kondisi, dan menggambarkan peristiwa tersebut.Selective coding, peneliti mengidentifikasi suatu jalan cerita dan mengintegrasikan kategori di dalam model axial coding.Selanjutnya peneliti boleh mengembangkan dan menggambarkan suatu acuan yang menerangkan keadaan sosial, sejarah, dan kondisi ekonomi yang mempengaruhi peristiwa.
EtnografiEtnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok. Sedangkan teknik analisis data jenis Etnografi dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:
Mengorganisir file.Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.Menguraikan setting sosial dan peristiwa yang diteliti.Menginterpretasi penemuan.Menyajikan presentasi baratif berupa tabel, gambar, atau uraian.
Studi kasusPenelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu. Sedangkan teknik analisis data jenis Studi Kasus dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:
Mengorganisir informasi.Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.Membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya.Peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori.Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain.Menyajikan secara naratif.
2.2 Quantitative is Business Approach
2.2.1 Pendekatan Analisis Ekonomi
Sampai saat ini, pariwisata seringkali dipersepsikan sebagai mesin penggerak ekonomi atau penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara, tanpa terkecuali di Indonesia.
Seiring dengan hal di atas, menurut IUOTO (International Union of Official Travel Organization) yang dikutip oleh Spillane (1993), pariwisata mestinya dikembangkan oleh setiap negara karena delapan alasan utama seperti berikut ini: (1)Pariwisata sebagai faktor pemicu bagi perkembangan ekonomi nasional maupun international. (2)Pemicu kemakmuran melalui perkembangan komunikasi, transportasi, akomodasi, jasa-jasa pelayanan lainnya. (3)Perhatian khusus terhadap pelestarian budaya, nilai-nilai sosial agar bernilai ekonomi. (4)Pemerataan kesejahtraan yang diakibatkan oleh adanya konsumsi wisatawan pada sebuah destinnasi. (5)Penghasil devisa. (6)Pemicu perdagangan international. (7)Pemicu pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan profesi pariwisata maupun lembaga yang khusus yang membentuk jiwa hospitality yang handal dan santun, dan (8)Pangsa pasar bagi produk lokal sehingga aneka-ragam produk terus berkembang, seiring dinamika sosial ekonomi pada daerah suatu destinasi.
Berdasarkan uraian di atas, masih banyak anggapan bahwa pariwisata hanya sebuah bagian dari spectrum pembangunan ekonomi, yang lebih cocok di pelajari dan dianalisis dengan pendekatan analisis yang sudah lazim digunakan pada ilmu ekonomi karena untuk mengukur posisi pariwisata sebagai sebuah industry relative masih sangat sulit (Hara, 2008:1)
2.2.2 Quantitative Tourism Industry Analysis
Menurut (Bendesa, 2010), Metode Kuantitatif merupakan alat analisis yang dapat membantu pelaku usaha dalam dunia bisnis termasuk bisnis pariwisata dalam pengambilan keputusan karena keputusan dalam dunia bisnis dapat dalam bentuk atau berkaitan dengan, antara lain: optimasi, estimasi, identifikasi, maupun eksplorasi masalah yang dihadapi. Sedanghkan alat analisis lebih bersifat terapan sehingga metode kuantitatif lebih merupakan unifikasi antara alat dengan teori ekonomi dan manajemen.
Sementara Hara (2008) telah membukukan beberapa teknik analisis yang semestinya, Berbagai teknik analisis kuantitatif, yaitu sering berkaitan dan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensia, yang terdiri dari statistik non parametrik, statistik parametrik, ekonometrika persamaan tunggal dan simultan, dan model-model makro regional, yaitu model Input-Output Leontief regional dan Interregional atau sekarang dikenal dengan istilah Tourism Satellite Account (TSA), model Social Accounting Matrix regional dan interegional (SAM), dan sebagainya. Alat analisis yang popular digunakan untuk memecahkan masalah-masalah quantitative pariwisata, diantaranya adalah:
Input-Output AnalysisHeng dan Low (1990) menjelaskan bahwa pada tataran praktis, Input-Output Analysis adalah alat analisis yang sangat baik untuk mengukur dampak pariwisata.
“Heng and Low (1990) illustrates well the type of practical use which can be made of input-output analysis in considering the impact of tourism”
Input-output sebenarnya menangkap potret perekonomian suatu wilayah melalui aliran inter-industri pada periode waktu tertentu, dengan menggunakan prinsip keseimbangan umum (General Equilibrium) artinya jika terjadi ketidakseimbangan atau keseimbangan di satu sektor akan berpengaruh terhadap ketidakseimbangan atau keseimbangan sektor lainnya.
Social Accounting Matrix ModelWest (1993) berpendapat bahwa SAM atau social accounting matrix sangat tepat untuk memecahkan masalah pariwisata yang saling berhubungan dari waktu ke waktu.
“West (1993) uses a Social Accounting Matrix (SAM) to overcome the first problem and an integrated model to allow for changes in the relationship with the passage of time”
Dia mengganggap bahwa analisis input-output dianggap belum mampu memecahkan persoalan dampak pariwisata karena hanya mengukur hubungan produser dengan produser dan tidak menyertakan perdagangan yang dilakukan oleh pemerintah dan sektor publik lainnya. Sepintas Nampak bahwa SAM hanya sekedar perluasan alat analisis dari I-O namun sebenarnya tidak sesederhana itu.
“The importance of SAM derives not only from the point that it is a technical expansions of the I-O, but from point that additional wealth of data can be turned into highly useful information for development of national or regional economy” (Hara, 2008:116)
Menurut Hara (2008: 116) menjelaskan bahwa SAM memang menyertakan model I-O namun SAM bukan sekedar perluasan dari I-O namun lebih daripada sekedar perluasan, dimana SAM mampu memberikan gambaran yang lebih luas tentang analisis tingkat kesejahteraan sebuah Negara atau regional , dan menyertakan institusi, aktivitas produksi, dan factor-faktor produksi.
Tourism Satellite Account“The purpose of a tourism satellite account is to analyze in detail all the aspects of demand for goods and services associated with the activity of visitors; to observe the operational interface with the supply of such goods and services within the economy; and to describe how this supply interacts with other economic activities” (TSA: RMF 2008)
Tujuan dari TSA adalah untuk menganalisis secara rinci terhadap semua variabel permintaan barang dan jasa yang berkaitan dengan aktivitas wisatawan pada suatu destinasi. TSA juga untuk mengamati variabel lainnya seperti penyediaan sarana, barang dan jasa yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi lainnya.
“Our team possesses particular experience developing Tourism Satellite Accounts (TSAs) as ratified by the UN as the global standard for measuring the economic value of tourism. Our staff has implemented Tourism Satellite Account research for over two-dozen clients over the past decade, significantly raising the profile and understanding of tourism’s role in the economy.” (Tourism Economics, Inc, 2011)
Menurut (Tourism Economics, Inc, 2011) bahwa TSA telah diratifikasi oleh United Nation sebagai alat analisis yang berstandar global untuk mengukur economic value dari pariwisata, TSA sampai saat ini telah banyak diterapkan pada dunia penelitian untuk mengukur peranan pariwisata dalam perekonomian. Model TSA yang telah diratifikasi oleh UN dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Jadi pada prinsifnya TSA adalah alat analisis yang menganalisis terhadap variable-variabel permintaan dan penawaran pariwisata beserta dengan variable bisnis terkait langsung maupun tidak langsung terhadap aktivitas pariwisata dan kegiatan ekonomi di suatu destinasi (provinsi, atau Negara) pariwisata, dan telah diratifikasi oleh United Nation sebagai alat analisis resmi untuk mengukur peran pariwisata dalam pembangunan ekonomi negara atau regional.
Social cost-benefit analysisArcher dan Cooper (1994), berpendapat bahwa: penelusuran tentang manfaat dan dampak pariwisata terhadap ekonomi harus menyertakan variabel sosial yang tidak pernah dihitung oleh fakar lainnya.
“Impact analysis can be extended to other dimensions as summarised by Archer and Cooper (1994) including social cost-benefit analysis”
Dan social cost-benefit analysis mestinya digunakan, menurutnya untuk mengukur manfaat dan dampak pariwisata bukanlah pekerjaan yang mudah karena tidak sekedar menghitung dampak ekonomi hanya dengan mencari multiplier efeknya saja.
3. Penutup Thomas D.Cook and Charles Reichardt (1978) menyatakan “to the conclusion that qualitative and quantitative methods themselves can never be used together. Since the methods are linked to defferent paradigms and since one must choose between mutually exclusive and antagonistic world views, one must also choose between the methods type”
Sampai pada kesimpulan bahwa metode kualitatif dan kuantitatif sendiri tidak pernah dapat digunakan bersama-sama. Karena metode yang terkait dengan paradigma defferent dan karena kita harus memilih antara pandangan dunia yang saling eksklusif dan antagonis views, orang juga harus memilih antara jenis metode. Perbedaan yang paling menonjol adalah perbedaan aksioma, proses penelitian, dan karakteristik penelitiannya,
Pada konteks Pariwisata, kedua paradigma baik qualitative maupun quantitative dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan pariwisata dan pemilihan paradigma tersebut sangat tergantung dengan proposisi maupun hipotesisnya, sehingga ada keharusan untuk memilih satu diantara dua paradigma tersebut karena pada prinsifnya kedua paradigma tersebut tidak dapat digabung “mixing” namun hanya dapat digunakan secara bergantian khususnya yang berhubungan dengan teknik penelitiannya dan sifatnya saling melengkapi.
Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Peneliti akan membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15).
Sementara Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati, dan pendekatan kualitatif sangat mungkin digunakan untuk memecahkan masalah pariwisata karena pada hakekatnya pariwisata mendalami hakekat perjalanan wisata yang dilakukan oleh manusia.
Sementara, masih banyak anggapan bahwa masih relatif sulit memposisikan pariwisata sebagai entitas industri secara mandiri, karena masih terlalu banyak terkait dengan entitas lainnya sehingga teknik analisis kuantitatif lebih sering dipakai untuk memecahkan masalah pariwisata. Analisis kuantitatif yang berkaitan sering menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensia, yang terdiri dari statistik non parametrik, statistik parametrik, ekonometrika persamaan tunggal dan simultan.
Acapkali masalah-masalah pariwisata sering dikaitkan dengan masalah makro ekonomi sehingga lahirlah model-model makro regional, seperti model Input-Output Leontief regional dan Interregional atau sekarang dikenal dengan istilah Tourism Satellite Account (TSA), model Social Accounting Matrix regional dan interegional (SAM), dan sebagainya.
Bahkan Hara (2008) menjelaskan bahwa masih sangat diperlukan adanya penemuan-penemuan baru yang berhubungan dengan analisis data kuantaitatif yang berhubungan dengan pemecahan masalah-masalah pariwisata dan peranannya untuk pembangunan. Dia mendiskripsikan bahwa perlu ada alat analisis yang mengukur dampak pariwisata terhadap pengentasan kemiskinan “poverty alleviation effects of tourism as an industry” dan juga diperlukan model analisis dampak lingkungan dari pembangunan pariwisata “modeling environmental effect of industrial activities”.
Daftar Pustaka
Archer, B. and Cooper, C. (1994) “The Positive and Negative Impacts of Tourism”. Pp. 73-91 in W.F. Theobald (ed.) Global Tourism: The Next Decade, Butterworth-Heinemann, Oxford.
Archer, B.H. (1982) “The Value of Multipliers and the Policy Implications”, Tourism
Bungin, B. 2007. Penelitian Kualitatif. Prenada Media Group: Jakarta.
Bungin, B. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. PT Rajagrafindo Persada: Jakarta.
Creswell, J. W. 1998. Qualitatif Inquiry and Research Design. Sage Publications, Inc: California.
Fletcher, J.E. (1989) “Input-Output Analysis and Tourism Impact Studies”, Annals of Tourism Research, 16, 514-529.
Heng, T.M. and Low, L. (1990) “Economic Impact of Tourism in Singapore”, Annals of Tourism Research, 17, 246-269. Management, 3(4), 236-241.
Sinclair, M.T. (1991) “The Economics of Tourism”. Pp.1-27 in C.P. Cooper and A. Lockwood (Eds) Progress in Tourism, Recreation and Hospitality Management, 3, John Wiley, Chichester, UK.
Spillane, James.1993. Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan prospeknya.Yogyakarta: Kanisius.
Tourism Vision 2020 – UNWTO: pada http://pandeputusetiawan.wordpress.com
Tourism Economic Impact: Tourism Satellite Accounts (TSAs) as ratified by the UN as the global standard for measuring the economic value of tourism, retriave on 3rd April 2011 from http://www.tourismeconomics.com/services-economic-impact.php
United Nation-World Tourism Organization (2005), Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid
|
|
comments (0)
|
Health and Wellness Tourism Jenis dan Potensi Pengembangannya di Bali
Oleh I Gusti Bagus Rai Utama
ABSTRACT
Internationally, individuals from developing countries have travelled todeveloped countries for high quality medical care. But now, a growing number ofindividuals from developed countries are travelling to regions, oncecharacterised as third world, seeking high quality health and wellness productsand services at affordable prices. The preference also as an opportunity for Indonesia and Balias a tourist destination, and the name of Bali is popularhaving health and wellness tourism area for several times was known as one of the best spadestinations. The industry of health and wellness inBali has been become a part of tourism sector, indeed, to win the competition, need a strategy for development in accordance to face the regional andworld competitions. This paper tried to identify and describe the health and wellnesstourism, the brief’s description of trend of health and wellness tourism in theworld, Indonesia, and Bali as well as. The conclusion of this paper describethat health and wellness tourism are being an strength of comparativeness, andopportunity to innovate tourism product in Bali
Keyword: Bali, Tourism, Health and Wellness
1. Pendahuluan
Menurut teorikebutuhan Maslow, dimana kebutuhan menusia bukanlah hanya sekedar kebutuhandasar saja namun lebih daripada itu, manusia juga membutuhkan rasa aman,pengakuan sosial, merindukan sebuah penghargaan, menginginkan sebuah prestasidan akhirnya ingin melakukan aktualisasi diri.
Ihave travelled so much because travel has enabled me to arrive at unknownplaces within my clouded self . (Sir Laurens Van der Post, quoted in 1994:99)
Jika sebagian besar manusia tidak dapat mewujudkan pemenuhan kebutuhanpsikologisnya, itu semua karena keterpaksaan semata, bukan dari hati nuraniseorang manusia, artinya kebutuhan manusia itu memang menjadi hasrat semuamanusia di dunia ini. Pada segmen kebutuhan psikologis ini, leisure activities memegang perananpentingnya.
Sependapat dengan Cohen tentang tipologipelaku leisure (dalam Pitana:2005)dimana pelaku leisure dapat dibedakanmenjadi lima kelompok utama, yakni: (1)Existensial: Mereka adalah pelarian dari rutinitas kehidupansehari hari, mereka bergabung pada kelompok pencari aktivitas leisure yangbersifat spiritual. (2)Experimental:Mereka mencari gaya hidup yang berbeda, sangat extreme dari kehidupannyasehari-hari. (3)Experiental: Merekamencari makna hidupnya pada komunitas yang berbeda dan membandingkannya,pencarian sebuah pengalaman dari budaya yang berbeda. (4)Diversionary: Mereka yang berlari dari kehidupan rutin, mencaripenyegaran tubuh maupun mental “refress”.(5)Recreational: Merekayang melakukan kegiatan leisure sebagai bagian untuk menghibur diri ataurelaksasi.
Pendapat yang hampirsama mengacu pada teori motivasi seseorang melakukan kegiatan leisure. Jika dilihat dari motivasiseseorang untuk melakukan kegiatan leisure,McIntosh dan Murphy (dalam Pitana:2005), mengelompokkannya kedalam empatkelompok, yang terdiri dari: (1)PhysicalMotivation: Orang-orang “mereka” yang terdorong ber-leisureoleh karena alasan fisik; relaksasi, kesehatan, kenyamanan, olahraga, santaidan sebagainya. (2)CulturalMotivation: Mereka Ingin mengenang dan mengenal budaya lain, merekaseolah-olah akan berada di dunia lain dalam kontek waktu atau zaman. (3)Social Motivation: Merekatermotivasi oleh kegiatan sosial seperti mengunjungi keluarga di kampung“pulang kampung” mengunjungi teman, atau bahkan menjenguk orang sakit. (4)Fantasy Motivation: Merekayang berusaha mewujudkan sesuatu yang telah atau sedang mereka hayalkan, berusahalepas dari rutinitas kesehariannya.
Sejalandengan beberapa pendapat di atas, jenis pariwisata atau leisure activites telah dikemas menjadi peluang bisnis untukmenyediakan jasa layanan health andwellness. Pada konteks ini, pariwisata health and Wellness mengacupada kegiatan perjalanan seseorang ke dan tinggal di tempat-tempat di luarlingkungan biasa mereka untuk tidak lebih dari satu tahun berturut-turut untuk tujuan healthand Wellness dan tidakberhubungan dengan suatu pekerjaan, dan tidak dibayar dari tempat yang dikunjungi. Hal ini juga berasosiasi dengan perjalanan ke health spa atau destinasi-destinasi resort dimana tujuan utamanya adalah untukmeningkatkan kebugaran fisikmelalui latihan fisik dan terapi, kontrol diet dan pelayanan medis yang relevandengan pemeliharaan fisik. (Romulo,at all. 2007)
2. Health and Wellness Tourism
Wellness dapat digambarkan sebagai sebuah proses di manaindividu membuat pilihan dan terlibat dalam kegiatan dengan cara mempromosikan mengarahkan gaya hidup yang sehat, yang pada gilirannya berdampak positif bagi kesehatan individu itu sendiri (Barre, 2005).
2.1 Posisi Healthand Wellness dalam Bisnis Pariwisata
Menurut Kaspar (dalam Mueller dan Kaufmann , 2007), Wellness tourism pada konsep bisnis pariwisata adalah sub bagiandari health tourism sederajat denganbisnis pariwisata lainnya. Health tourismdikategorikan menjadi illness preventiontourism dan spa/convalescence tourism.Health and wellness tourism termasukpada illness prevention tourism yangdidalamnya dikategorikan menjadi jasa kesehatan dan jasa kebugaran, lebihjelasnya dapat dilihat pada figure dibawah ini,
Figure: Demarcationof wellness tourism in terms of demand, (sumber: Mueller, 2007)
Konsepdi atas akan menjadi sangat penting jika wellnesstourism dipahami sebagai sebuah konsep ilmiah yang akan digali untukdipelajari dan dikembangkan menjadikonsep baru yang lebih relevan dari sisi permintaan maupun penawaran. Jikadilihat dari sisi penawaran, wellnesstourism adalah sebuah produk berupa jasa pariwisata yang dapat dikembangkanatau dikreasikan ragamnya sesuai dengan kondisi sebuah destinasi baik dari sisisosial maupun lingkungan. Kaspar (dalam Mueller dan Kaufmann ,2007)
Dari sisi permintaan, health and wellness tourism saat initelah menjadi trend masyarakat dunia untuk mewujudkan kebugaran dan kesehatan “health prevention” dan mendapatkankepuasan diri dan selanjutnya konsumenhealth and wellness tourism tidakterbatas pada wisatawan asing saja tetapi telah menjadi “lifestyle” khususnya masyarakat“konsumen” perkotaan dalam negeri (www.tpdco.org).
2.2 Perbedaan Medical dan Health Tourism
Health Tourism adalah perjalanandengan motivasi kesehatan( health tourism) padahakekatnya dilakukan sehubungan dengan kesehatan, seperti pemeriksaan kesehatan(medical check-up), pemeliharaan, seperti mandi uap, mandi lumpur,mandi air panas, pijat refleksi, pijat kebugaran dan spa yang dewasa ini sedangmarak di Indonesia, pengobatan, pemulihan dan selanjutnya. (Rogayah, 2007)
health-tourism dan medical-tourism adalah dua halyang berbeda, dimana healthtourism dapat diartikan sebagai pariwisata kesehatan berupa perjalananuntuk pemeliharaan dan atau pemulihan kesehatan yang pada hakekatnya dilakukanoleh orang yang sehat, tidak menderita suatu penyakit, atau orang yang barusembuh dari perawatan. Sedangkan medicaltourism lebih condongmenyangkut tindakan medik pengobatan (cure), operasi dan atau tindakanmedik lainnya, yang dilakukan terhadap penderita suatu penyakit atau kelainankondisi kesehatannya.
“medical tourism, which focuses more on surgicalprocedures, health tourism is a much broader concept centered mainly aroundresorts designed to pamper or improve the body and relax the mind” Medical tourism (also known as Health Tourism) is the practice of traveling abroad to obtainhealthcare services. (discovermedicaltourism, 2010)
Menurut Discovermedicaltourism (2000), medical tourism lebih terfokuspada “surgical procedures” namun health tourism lebih banyak dihubungkan dengan konsep sebuah resort yangdirancang untuk tujuan relaksasi, mencari ketenangan, serta peningkatankebugaran tubuh. Namun antara istilah medicaldan health tourism sebenarnyadianggap dua hal yang tidak jauh berbeda menurut anggapan para konsumen atauwisatawan.
2.3 Jenis dan Bentuk Produk Health and Wellness Tourism
Menurut Kaspar(dalam Mueller dan Kaufmann , 2007), kebutuhan akan produk health and wellness akan terusberkembang dan menjadi beragam tergantung pada faktor sosial dan kepekaanlingkungan. Jika manusia masih memiliki rasa untuk memanjangan diri “self responsibility” maka pasti akanmembutuhkan jasa health and wellness tersebut. Health and Wellness produk dapatdikategorikan pada beberapa kelompok yakni; (1)mind mental activity/education, (2) health nutrion/diet, (3) body physicalfitness/beauty care, dan (4) relaxation rest/meditation. Lebih jelasnyadapat digambarkan pada figure dibawah ini,
Figure: Expandedwellness model 3, Wellness tourism is regarded as a sub-category of healthtourism (Kaspar, 2007)
2.4 Trend Health andWellnessTourism di Dunia
Trend yang semakin meningkat bagi pertumbuhan danperkembangan Health and wellness Tourismtidak dapat diragukan lagi. Pada tingkat global dan regional untuk health and wellness (medical service, leisure and recreation Spas, medical surgical clinic,medical wellness centers or spa) tourism menyebar hampir merata di beberapakawasan seperti Eropa, Amerika, Asia, dan Australia serta Selandia Baru.
Figure InternationalAnalysis of Health and Wellness Assets. Source : Smith and Puczk ó (2009)
Pada sisi lainnya,seperti nampak pada figure di atas,kebutuhan atau permintaan akan destinasi yang alami dan mampu menjadi tempatuntuk melakukan “healing” ataupenyembuhan justru menjadi trend yangmerata hampir di semua kawasan dunia.
Menurut Smith dan Puczk ó, (2009: p253) health and wellness tourismdapat dikembangkan berdasarkan bahan-bahan atau asset yang telah tersedia padasuatu destinasi (Existing assets for health and wellness tourism) dan atau diadakan berdasarkan kebutuhan ataupermintaan (Use of existing assets).
Yang termasuk dalam Existingassets for health and wellness tourism adalah (1) Naturalhealing assets, (2) Indigenous healing traditions, (3) medical service, (4)nature,dan (5) spiritual traditions. Sedangkan yang termasuk pada use existing assets adalah (1) leisure and recreation spas, (2)medical/ therapeutic hotel/clinicspas, (3) medical/surgical clinic or hospital, (4) medical wellness center orspas, (5)holistic retreats, dan (6)Hotel and resort spa.
Natural healing asset tersebar hampirmerata di beberaa kawasan seperti Eropa Utara, Barat dan tengah, Eropa Selatan.Sementara pada kawasan Amerika tersebar di dua kawasan yakni Amerika Tengah danselatan. Begitu juga dengan kawasan Afrika dan kawasan fasifik juga kaya dengannatural healing assets, sementara di kawasan Timur tengah dan asia tenggaratidak termasuk dalam kawasan yang kaya dengan natural healing asset kecualiasia timur jauh, hal ini dimungkinkan karena pada saat penelitian inidilakukan, ke dua kawasan tersebut belum mengeksplorasi hal tersebut sebagaiasset yang bisa dijadikan natural healingasset.
Indegenous Healingtradition menyebar merata di kawasan Amerika, Afrika, AsiaTenggara dan timur jauh, dan kawasan fasifik. Kawasan Eropa justru dianggaptidak memiliki indigenous healing tradition yang berarti hal ini mungkin sajaterjadi karena sebagaian besar kawasan ini telah tersentuh modernisasi yang hampirtidak meninggalkan lagi unsure-unsur ketradisonalannya, sangat berbeda dengankawasan asia, fasifik, dan amerika yang masih sangat mudah ditemukan budayaindigenous healing tradiosional seperti misalnya di India, China, pengobatanalternative di Indonesia, dan sejenisnya.
Medical services menyebar hampir disemua kawasan kecuali di kawasan fasifik, hal ini dimungkinkan karena kawasanfasifik terletak cukup jauh dari kawasan-kawasan yang lainnya sehingga secarainternasional kawasan fasifik tidak sepopuler kawasan lainnya seperti eropa,amerika, dan asia.
Nature menyebar merata diseluruh kawasan kecuali di kawasan asia tenggara dan eropa bagian tengah dantimur. khusus untuk kawasan asia tenggara belum dianggap kawasan yang populerdengan sumber nature untuk asset health and wellness tourism dimungkinkan belumdilakukan eksplorasi atau pengembangan sumber nature untuk peruntukan bisnishealth and wellness tourism.
Spritual Tradition hanya ditemukan padakawasan asia tenggara dan asia timur jauh hal ini dimungkinkan karena kawasan ini paling eksisdalam memelihara budaya spiritual yang masih original atau lebih dikenal denganspiritual tradition seperti contohnya; penyembuhan dengan senam yoga, senamyang berbasis aliran Yin dan Yang di China, dan sebagainya.
Sangat mengherankan,sebaran untuk use of existing assetsjustru menyebar pada kawasan Asia tenggara dan asia timur jauh untuk semuajenisnya seperti; leisure and recreationspa, terapi hotel spa and clinic, medical clinic and hospital, medical wellnesscenter and spa, holistic retreats, danhotel and resorts spa. Hal yang samajuga terdapat pada kawasan eropa selatan dan kawasan fasifik.
2.5 Health and Wellness di Indonesia
Sejauh ini, untuk perkembangan healthand wellness tourism belum banyak disadari sebagai potensi bisnis yangsangat potensial di Indonesia, padahal Indonesia memiliki potensi yang sangatbesar untuk kedua jenis asset untukpengembangan health and wellness tourismtersebut.
Menurut Rogayah, (2007) hampirdi setiap wilayah Indonesia dapat ditemukan pariwisata kesehatan yang sudahdikembangkan; hal tersebut dapat dipahami mengingat Indonesia merupakankepulauan yang kaya akan alam dan pegunungan yang tersebar baik di lima pulauterbesar di Indonesia maupun di beribu pulau kecil lainnya. Namun sayang sekalidata tentang keberadaan pariwisata kesehatan yang belum dikembangkan dan masihsangat alami belum dapat diketahui dengan pasti.
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, penggunaan rempah-rempah,bumbu-bumbuan dan tumbuh-tumbuhan seperti padi, kelapa, jahe dan lain-lainnyauntuk digunakan sebagai bahan penyembuhan dan relaksasi (rejuvenate) yang bersifat holistik sudah merupakan kebiasaan turuntemurun dan sebagian telah dikemas menjadi industri spa dansepuluh tahun terakhirini spa and wellness berkembangsangat cepat di Indonesiakhususnya di Bali, dan industri inimenghasilkan pendapatan yang tinggi (Widjaya, 2011).
Selamaini health and wellness khususnya Spa,lebih identik untuk kecantikan dan kebugaran tubuh, namun seiring denganberkembangnya kreatifitas dan inovasi para penyedia jasa, dengan digabungkannyaSpa dan herbal teraphy selain mendapat cantik, seseorang juga mendapatbanyak manfaat untuk penyembuhan berbagai penyakit (Sugianto, 2010)
Seiring denganhal di atas, kehidupan di kawasan perkotaan seperti Jakarta, Surabaya dan jugaDenpasar yang sarat dan padat denganaktivitas berdampak pada badan dan raga menjadi lelah dan letih. Kondisi inimemunculkan bisnis Spa yangmenawarkan pemulihan dan kebugaran sehingga seberat apa pun aktivitas sesesorangdengan spa akan kembali bugar dansiap untuk kembali melakukan aktivitas yang padat tersebut.
Bagi masyarakatmodern, semua itu menjadi hal yang dihadapi setiap harinya. Pada saat-saatdemikian terapi kesehatan dan juga sarana untuk memanjakan diri menjadi suatukebutuhan bahkan telah menjadi trendsaat ini, termasuk juga langganan datang ke Spa untuk memulihkan tubuh darirasa lelah dan lambatlaun telah menjadi gaya hidup masyarakat dunia. (Everyday spa, 2010)
Senada dengan hal diatas, adanya tuntutan kesehatan dan kebugaran telah berubah menjadi aktualiasidiri seiring dengan peningkatan kesejahteraan hidup manusia juga mendorongterciptanya gaya hidup modern. Keinginan tampil beda dengan tubuh yangsenantiasa segar dan sehat, dan healthand wellness tourism berkembang seiring dengan adanya permintaan dan terciptanyaberagam jenis produk health and wellness mengiringi pesatnyatingkat persaingan antara supplieratau penyedia jasa.
2.6 Health and Wellness TourismBali
Sebagai daerah tujuan wisata, keberadaan health dan wellnesstourism, di Bali telah dikenal di duniasebagai salah satu destinasi spa terbaik. The Jakarta Post (2009), memberitakan bahwa Thermes MarinsBali, Indonesia mendapat penghargaan sebagai “best Destination SPA in Asia’ oleh Asia SPA and Wellness, pada Asia Spaand wellness festival Gold Awards di hotel Landmark, Bangkok. Pada acaraini ada 28 Spa and Wellness Centersyang mendapat penghargaan dari 212 nominasi yang ada di Asia, dimana penilaiandilakukan dengan melihat indikator suasana (ambience),peralatan dan design, kualifkasi dan keterampilan therapist, menu treatmentdan kualitas layanan (service),selain itu di tahun 2009 juga Bali mendapat penghargaan sebagai the “World’s Best Spa Destination”.Penghargaan ini diberikan oleh Berlin-based fitness magazine Sensesdan diterima pada acara annualInternational Pariwisata Bourse (ITB) in Berlin.
Untuk mempertahankan dan pengembangan healthand wellness tourism tidak hanya sebatas produk spa, maka diperlukan sebuah strategi yang tepat dan jitu untukmembuat kreasi dan inovasi produk. Caribbean Export DevelopmentAgency (2008) mengusulkan bentuk strategi pengembangan pariwisata health and Wellness di karibia. Tidakjauh berbeda, mengingat kepulauan karibia dan Bali memiliki banyak persamaandalam pengembangan pariwisatanya, maka adopsi konsep ini bagi pengembanganpariwisata health and Wellness diBali juga dapat dilakukan. Ada 10 aspek yang perlu dilakukan dalam strategipengembangan tersebut ke sepuluh strategi tersebut akan dijelaskan berikut ini. (1)Penentuan Posisihealth and Wellness tourism Bali dalam Pasar Global. (2) Penentuan PosisiPariwisata health and Wellness Balidalam Pasar Regional. (3) Identifikasi Produk dan/atau Pelayananyang Ditawarkan. (4) Mengidentifikasi pasar Target. (5)Mengatasi HambatanPotensial. (6)Mengetahui Apa yangPesaingBali. (7)Membedakan Bali dari Competitor. (8) Meluruskan Goals Industri healthand wellness dengan Strategi Peluang. (9)Mengambil Kesempatan bermitra. (10) Menerapkan Strategi Promosi.
Khususnya di Bali, pasar pariwisata healthand Wellness dapat dibagi menjadi empat segmen: (1) pariwisata medis, (2) Wellness dan spa, (3) keperawatan (nursing) dan perawatan lansia (elderly care), dan (4) jasa untuk penelitian dan diagnostik. Layanan healthand Wellness di banyak negara merupakanlayanan yang ideal untuk mempromosikan peran ekspor jasa pariwisata sebagai bagian dari GDP. Menurut statistik World Travel and Tourism Council (WTTC), diperkiraan keseluruhan kontribusi pariwisata terhadap rata-rata GDP cukup tinggi.
Di Bali jumlah spa berkembang melebihi 160% sejak tahun 2003.Teriden-tifikasi ada sekitar 390 spa yang sekarangsedang beroperasi dan selebihnya ada sekitar 21 spa yang sedang di bangun(Widjaya, 2011). Tingginya perkembangan tersebut membuka momentum bagi bisnis health and Wellness di Bali, walaupundisisi eksternalnya bisnis ini akan berkompetisi dengan lingkunganperdagangan internasional yang sangat kompetitif, tetap saja bisnis Healthand Wellness ini merupakankesempatan nyata untuk mengambilkeuntungan, untuk menciptakan prospekpertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini akan menjadi peluang bagi Bali sebagai destinasi health and Wellness dimasa yang akandatang.
Investasi asing langsung dan pembentukanperusahaan asing di Bali dalam konteks industripariwisata health and Wellness beberapa tahun terakhir ini,khususnya pembangunan spa telah meningkat 160% bila diban-dingkan dengantahun 2003. Dari 160% tersebut 52% berlokasi di Hotel, Resort,dan Retreat (Destination Spas), sisanya ada 42% adalah Day Spas (Widjaya, 2011). Tingginya minat melakukaninvestasi di bidang spa ini menunjukkan bahwa industri pariwisata health and Wellness di Bali dipandangmenjanjikan secara bisnis.
3. Kesimpulan dan Saran
Di Indonesia dan kawasanASEAN Bali dikenal memiliki imprastruktur pariwisata yang cukup mapan.Perkembangan pariwisata health andwellness sebagai konsekuensi dariberkembangnya infrastuktur, permintaan wisatawan, industri perhotelan danlingkungan bisnis yang telah teratur baik. Namun,keuntungan komparatif seperti ini, belum menjamin Bali mampu menghadapipersaingan global telah ditentukan oleh keinginan wisatawan.
Oleh karena itu fungsi pengelolaan pariwisata health and Wellness telah selayaknya dievaluasi kembali,khususnya bagaimana strategi yang paling tepatyang dapat dilakukan bagi pengembangan pariwisata health and Wellness di Bali,yang melibatkan tidak hanya pemerintah tetapi stakeholder pariwisata Bali. Dari evaluasi tersebut, diharapkan akanmendapatkan jawaban tentang: posisi health and wellness tourism bali pada pasar global, posisi pariwisata health and wellness Balidalam pasar regional, jenis dan ragam produk dan/atau pelayananyang ditawarkan, pasar target, mengetahui hambatan potensial, mengetahui pesaing Bali, perbedaan Bali dengan pesaing, goal industri health and wellness bali dengan strategi peluang yang tepat,melakukan kemitraan dengan pihakasing,dan melakukan strategi promosi tepat.
KeberadaanHealth and Wellness Tourism adalahsebuah peluang dan kekuatan untuk menambahkan daya saing Bali sebagai sebuahdestinasi pariwisata Internasional, namun jika keberadaan health and wellness tourism di Bali tidak dikelola sebagai bagianutuh dari pariwisata Bali, akibatnya akan berdampak pada kualiats destinasisecara keseluruhan.
Daftar Pustaka
Finn,Emanuel, 2002, Health Tourism, Volume No 1 Issue No 23,Friday, June 28, 2002
GigiStarr 2010. “10 Best Spas”.http://www.travels.com/vacation-ideas/ leisure-activities/best-spas/
GMDCand The Hartman Group. 2009. Consumer Shopping Habits for Wellness andEnvironmentally Conscious Lifestyles Study: Insights for Health, Beauty and Wellness. http://www.pacific.edu/Documents/school-pharmacy/acrobat /Consumer%20 Shopping%20Habits %20for%20Wellness%20-%20Presentation.pdf.
Gonzales, Anthony, et.al. 2001. Health Tourism and Related Services:Caribbean Development and International Trade, Caribbean RegionalNegotiating Machinery (CRNM).
Hadinoto, Kusudianto.1996. PerencanaanPengembangan Destinasi Pariwisata. Jakarta;Penerbit Universitas Idonesia.
Health Tourism. 2010.Retrive from http://www.discovermedicaltourism.com/health-tourism/
Karen (2005). Different kinds of leisure activities at theweekends in Bristol. Bristol Research Paper.
Mill,Robert Cristie.2000. Tourism, The International Business.Jakarta: PT Raya Grafindo Persada.
Mlesnita,Radu Adrian, 2002, Health Tourism, Volume No 1 Issue No23, Friday, June 28, 2002
Mueller dan Kaufmann. 2007. Wellness Tourism: Market analysis of aspecial health tourism segment and implications for the hotel industry .Research Institute for Leisure and Tourism, University of Berne, Engehaldenstrasse4, CH-3012 Bern, Switzerland
Oka A. Yoeti, 1996, AnatomiPariwisata, Bandung: PT Angkasa
Pendit, Nyoman S., 2002, Ilmu Pariwisata,Jakarta: Pt. Pradnya Paramita.
Pitana, I Gde, dan Gayatri. 2005. SosiologiPariwisata. Jogyakarta: Penerbit Andi
Rogayah, Iim D. 2007. Pariwisata Kesehatan di Jawa Barat, Retrievedon 02 November 2009 from http://irdanasputra.blogspot.com/2009/11/pariwisata-kesehatan.html
Romulo A. Virola and Florande S.Polistico. 2007. Measuring Pariwisata health andWellness in the Philippines.10th National Convention on Statistics (NCS). EDSA Shangri-La Hotel.
Ross, K. (2001). “Health Pariwisata: An overview.” HSMAIMarketing Review, (December). Downloaded from: www.hospatality/net.org
Sanders,Sir Ronald. 2007. Medical Tourism – TheImpact. http://www.BBCCarib-bean.com
SpaFinder.2008.Issues 5th Annual Spa Trends Report, 10Spa Trends to Watch in 2008. www.acybernews.com/spafinder-issues-5th-annual-spa-trends-report-10-spa-trends-to-watch-in-2008/
The Baxter Group (2003). “The Canadian pariwisata Resource Guide2003/04: A Directory of New Products and Services.” Toronto, Ontario
The JakartaPost. 2003. Bali voted 'best island'.http://www.thejakartapost.com/ news/2003/07/29/Bali-voted-039best-island039.html
The JakartaPost. 2005. ‘Bali again named world'sfavorite tourist island’. http://www.the-jakartapost.com/news/2005/07/11/Bali-again-named-world039s-favorite-tourist-island.html
TheJakarta Post. 2009. ‘Bali namedworld's best spa destination”. http://www.thejakartapost.com/news/2009/03/25/Bali-named-world039s-best-spa-destination.html
UnitedNation World Tourism Organizaton (UNWTO). 2007. Tourism Highlights, edisi 2007. https://pub.unwto.org/WebRoot/Store/Shops/Infoshop/4922/C788/D1 06/3080/CEEC/C0A8/0164/52FB/081118_tmt_world_2007_engl_excerpt.pdf
Widjaya, Lulu. 2011. SpaIndustry in Bali. Guest Lecturer in Tourism Doctoral Program at UdayanaUniversity.
Smith, Melanie dan Puczkó, László.(2009). Health and Wellness Tourism. Butterworth-Heinemann is an imprint of Elsevier, Linacre House, JordanHill, Oxford OX2 8DP, UK 30 Corporate Drive, Suite400, Burlington, MA 01803, USA, Retrive from http://www.download-it.org/learning-resources.php?promoCode=&partnerID=&content=story&storyID=1719
Spillane, James J. 1987.Ekonomi Pariwisata, Sejarahdan Prospeknya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Stenden, University (2008). Catalog of MAILTS Program. Leeuwarden: Internal publisher.
Sugianto, Agy. 2010. Spa Jadi gaya hidupmasyarakat kota. Retrive from http://bataviase.co.id/node/310818
|
|
comments (0)
|
GREAT DIALOGUES OF PLATO
Plato'sRepublic: Book V
All Goods Held in CommonAmong Friends and Philosophers as the Rulers of the State
Oleh: I Gusti Bagus Rai Utama, MA
Persamaan Gender dan Perbudakan
Pada buku V dari Plato, Isupersamaan gender dimulai dari sebuah dialog antara Polemarchos dan Adimantusyang mengangkat sebuah isu diantara mereka. Adeimantos membawa isu ini pada prinsifdasar yang diajarkan oleh Socrates dan pada prinsif lainnya yang memilikikemiripan isu. Pada dasarnya mereka menginginkan agar Socrates mendiskusikantentang bagaimana seharusnya seorang perempuan dan bagaimana seorang perempuanmemelihara anak-anaknya dihadapan teman-teman mereka, dan begitu juga tentang adanya perlawanan hatinurani tentang prinsif tradisional pada masa itu.
Socrates memulai dengan mengatakan bahwa diatidak yakin apa yang akan dikatakannya menjadi sebuah kebenaran atau apa yangsebenarnya akan terjadi. Dia menganggap bahwa isu persamaan gender adalah isuyang berbahaya, isu tentang sebuah perbudakan, dan isu-isu sejenisnya itusangat sulit untuk didiskusikan. Diatidak ingin membuat sebuah kesalahpahaman diantara mereka, sehingga dia tidakyakin masalah ini bisa diselesaikan. Namun seberapapun sulitnya masalah ini, tetap harus dapat ditemukansebuah jawaban agar tidak terjadi pertentangan diantara mereka dan untuk itulahdiskusi akhirnya dilanjutkan.
Keadilan Pendidikan
Sejak dulu Seorang lakik-laki memproteksiseorang perempuan bagaikan mengikat sekelompok anjing peliharaan. Sudah menjadihukum alam bahwa seorang perempuan harus tinggal di rumah untuk mengurusanak-anak mereka. Hal ini membuat perempuanseolah lebih lemah dari laki-laki pada semua hal. Pada buku The Republic, diungkapkan bahwaPlato atau Socrates menganggap seorang perempuan hanya berbeda dengan laki-lakisecara pisik saja dan anggapan ini menjadi awal pandangan modern tentang konsepemansipasi perempuan. Perempuan dan laki-laki itu sama kedudukannya pada semuabidang, baik itu bidang seni, kerajinan atau bidang lainnya.
Oleh sebab itulah, laki-laki dan perempuanharusnya mendapatkan kesempatan yang sama dibidang pendidikan. Walaupun padasaat ini, banyak budaya atau tradisi belum dapat menerima sepenuhnya tetapiprinsip persamaan gender ini adalah sebuah kebenaran yang perlu diperjuangkanterus menerus.
Kesamaan Hasrat dan Keinginnan
Pada kejadian ini, pertanyaan yang harus dijawaboleh Socrates adalah: Apakah kaum perempuan secara alami memiliki kemampuanatau kontribusi yang sama dengan kaum laki-laki? Jika ya, dimanakah perempuanitu akan mengungguli kaum laki-laki?
Pada awalnya Socrates menggunakan definisitentang perlawanan terhadap kaum laki-laki, sejak itulah banyak sekalipemisahan-pemisahan terjadi, misalnya tentang: apa saja tugas kaum laki-lakisecara alamiah yang dapat dibedakan, kapan seorang perempuan tidak harusmerebut persamaan terhadap kaum laki-laki.
Socrates memberikan sebuahgambaran tentang terjadinya kebingunan di masyarakat tentang istilah alamiah,apakah jika ada laki-laki berambut panjang atau perempuan berambut pendek itumelawan hukum alam? Di sini Socrates menjawab, yang dimaksud alamiah adalahsesuatu yang berhubungan dengan hasrat atau sebuah kesenangan, atau bakat,misalnya: perempuan atau laki-laki yang memiliki bakat menjadi ilmuwan harusnyamereka menjadi ilmuwan.
Dia menolak bahwa perempuandan laki-laki keinginannya harus dibedakan, sehingga Dia “Socrates” menjawabbahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki hasrat dan keinginan yang samadalam segala hal, tetapi dalam segala hal mungkin kaum perempuan lebih lemah.
Rahasia Sebuah Perkawinan
Dalam sebuah masyarakat,Socrates menemukan istilah kelompok elit yakni kelompok yang mendapatkanpendidikan yang lebih layak dari kelompok lainnya. AdaKelas-kelas dalam sebuah masyarakat misalnya adanya kelompok pengatur,prajurit, pengerajin. Pengatur dan prajurit mendapatkan pendidikan yang terbaikkarena diharapkan mereka akan memiliki keturunan yang lebih baik pula.Selanjutnya mereka akan memiliki anak laki-laki yang terbaik juga. Namun jikakaum perempuan berada pada kelompok elit tersebut, maka sangat dimungkinkanjuga akan menghasilkan kelompok perempuan yang terbaik juga. Jadi tidak dapatdisimpulkan bahwa generasi siapakah yangakan “laki-laki atau perempuankah yang menjadi terbaik”. Sehingga dalamkenyataan ini, yang menjadi terbaik adalah yang lebih berhubungan dengankesempatan dalam sebuah pernikahan dan masalah ketersediaan makanan atauperbaikan gizi. Kenyataan di atas menghasilkan sebuah hukum bahwa perempuan adalah sama dengan laki-laki, danselanjutnya tentang anak-anak mereka sebagai orangtua, anak-anak bukanlah milikdari orangtua mereka.
Socrates melanjutkandiskusinya dengan mengatakan bahwa hukum tersebut bukanlah hukum yang terbaik.Dia memulai dengan sebuah contoh perkawinan misalnya, pasangan untuk anak-anakmereka memang harus dipilih namun bukan orangtua mereka yang memilih. Dia menolak bahwa manusia akan diberlakukan sama dengan mengawinkan binatangyang bisa dipilih mana betinanya dan mana pejantannya?. Masalah perkawinanadalah sebuah rahasia bagaikan menarik sebuah loteri. Seperti seorang laki-lakiyang sedang berperang pasti mengharapkan sebuah kemenangan dan pujian ataupenghargaan dan cinta. Ada persoalan mendasar pada sebuah perkawinan, siapayang mengikuti siapa dan kapan; misalnya laki-laki harusnya telah berumurantara 30-45 tahun, dan perempuan harusnya berumur 20-40 tahun.
HakKepemilikan dalam Masyarakat
Kebiasaan pada sebuahperkawinan dalam masyarakat, anak-anak harusdilatih untuk hidup tanpa orangtua atau dipisahkan dari orangtua merekasesegera mungkin. Kebiasaan ini menjadi sebuah kebiasaan dalam masyarakat untukmemisahkan anak-anak mereka yang berumur antara 7-10 bulan untuk dapat berpisahdari orangtua mereka, sehingga seolah-olah banyak anak laki-laki dan perempuanmemiliki banyak orangtua dalam sebuah masyarakat, dalam konteks kekinian bahwaanak-anak adalah milik Negara bukan orangtua mereka.
Socrates beranggapan bahwakejahatan dan krimininalitas akan rendah jika dalam sebuah masyarakat terdiridari warga yang paham tentang mana miliknya “mine” dan mana yang bukan miliknya“not mine”. Hal ini juga dapat mengacutentang anak-anak dan orangtua mereka. Seorang istri dan anak-anak bukanlahmilik suaminya tetapi mereka adalah sebuah sekutu atau anggota masyarakat yangsama-sama diberkati dalam sebuah masyarakat.
Dalam masyarakat, Scoratesmenerangkan bahwa tidak ada mengelompokan atau pembedaan sehingga keharmonisandan kedamaian akan terwujud pada sebuah masyarakat dan akhirnya terciptasuasana yang lebih menyenangkan secara keseluruhan maupun secara individu. Inisama artinya dengan; ada kelompok yang tidak bahagia karena mereka dapatmemiliki apasaja pada sebuah kota atau masyarakat, tetapi mereka tidak merasakanapa-apa pada akhirnya.
Pemimpin Bijaksana
Pada akhir diskusi,Socrates memulai diskusi tentang perang, menurutnya, anak-anak akan menjadi korbanyang pertama yang akan menanggung akibatdarinya. Mereka bagai akan mengendarakuda dengan cepat dan digiring masuk jurang, dan akhir dari perang hanyalahsebuah kesulitan bagi masyarakat.
Tentang masalahperlindungan diri sebuah kelompok, Socrates menawarkan beberapa hal yang bisadi diskusikan. Perlindungan yang tidak menggunakan alat pelindung diri berupaalat-alat perang. Kesemuanya diwujudkan dalam sebuah semangat tentang siapayang akan mendapatkan penghargaan, pujian, dan cinta. Dengan menghormati lawan-lawannya, artinya,mereka akan aman pada sebuah benteng. Dan jika mereka melawan maka artinyamereka juga menjadi bangsa barbar yang justru akan menambah permasalahan lebihbesar lagi.
Socrates juga menolak bahwahanya laki-laki yang mampu melakukan sesuatu yang terbaik, laki-laki tidakharus sempurna. Kesimpulan dari semuadiskusi ini adalah sebuah pencarian bentuk menuju sebuah bentuk masyarakat yangideal. Seperti apakah seharusnya sebuahmasyarakat yang baik itu seharusnya dibangun.
Menurut Socrates,berdasarkan dari teori bentuk “theory of forms” langkah yang tepat dan akuratjauh lebih baik daripada kecepatan tindakan untuk mewujudkan masyarakat yangsebenarnya. Sehingga yang paling ideal untuk dijadikan pemimpin adalah seorang Pilosoper.
Kemudian Socratesmendifinisikan seperti siapakah seorang pilosoper tersebut; seorang pilosoperadalah seseorang yang memiliki kasih atau cinta akan kebijaksanaan, dankebenaran. Pada pencerahan ini, Socratesmemberikan landasan skala ilmu pengetahuan. Yang berada pada puncak kebenaransebuah ilmu atau pilosofis pengetahuan yang sempurna.
Kesimpulan
Tuntutanpersamaan gender ternyata telah menjadi isu sentral sejak jamannya Plato, isuini juga telah menjadi isu dunia, yang ternyata telah menjadi isu di Indonesiasejak jaman Ibu kita Kartini yang telah mempelopori keluarnya kaum perempuandari himpitan tekanan budaya yang mengekang kaum perempuan untuk menuntutpersamaan hak yang setara dengan kaum laki-laki khususnya persamaan hak untukmendapat pendidikan.
Padajaman Plato, isu persamaan gender dan perbudakan adalah isu yang sensitif atauberbahaya untuk didiskusikan, hal iniakan memicu pergolakan social disebuah masyarakat. Begitu juga halnya denganmasalah perkawinan, orangtua atau ayah dan ibu mereka tidak berhak menentukan calon pasangan darianak-anak mereka, perkawinan adalah sebuah rahasia, pasangan hidup dariseseorang hanya dapat dipertemukan oleh sebuah kata cinta. Di Indonesia kisah ini lebih dikenal dengankisah “Siti Nurbaya” yang mengisahkan adanya pemaksaan kehendak oleh orangtuakepada anak-anaknya dalam menentukan pasangan hidupnya. Pada kontek yang lain,istri dan anak-anak bukanlah milik dari seorang suami namun mereka adalah milikmasyarakat yang memiliki hak yang sama dalam masyarakat dalam segala hal.
Socratesjuga menyinggung masalah perlindungan diri, dimana perlindungan diri yangsebenarnya ada pada diri masing-masing berdasarkan rasa cintakasih, hormatmenghormati, dan penghargaan akan kebenaran, artinya jika kita berada padasebuah kebenaran, kebenaran tersebutlah yang menjadi banteng yang paling teguh.
Selanjutnya,dengan usaha menciptakan masyarakat yang damai, diperlukan pemimpin yangmemiliki karakteristik dengan jiwa yang mencintai kebenaran, bijaksana, danmemiliki cintakasih terhadap sesama, serta mencintai perdamaian.
Jikadihubungkan dengan dunia pariwisata saat ini, pariwisata adalah hal yangbersangkutpaut dengan perjalanan dan perkunjungan, jika sebuah destinasi tidakaman atau tidak ada kedamaian bukanlah menjadi destinasi yang baik dan layakuntuk dikunjungi, jadi jika perdamaian itu tidak tercipta pada sebuahmasyarakat yang menjadi host atau tuan rumah sebuah destinasi, maka dapatdipastikan wisatawan tidak akan berkunjung ke tempat tersebut.
Pariwisatajuga menjadi hak kaum miskin atau model pariwisata yang seperti ini, lebihdikenal dengan “pro poor tourim, pariwisatajuga harusnya memberdayakan kaum perempuan atau “Tourism pro gender”, sehingga apa yang telah diajarkan olehSocrates bukanlah hal yang muluk-muluk, tapi dapat diwujudkan jika ada kemauanuntuk melakukannya.
DaftarPustaka
Aristotle: Politics. Book V,12, 8; "He only saysthat nothing is abiding, but that all things change in a certain cycle: andthat the origin of the change is a base of numbers which are in the ratio of4:3 and this when combined with a figure of five gives two harmonies: he meanswhen the number of this figure becomes solid."
PLATO: The Collected Dialogues, Eds. Edith Hamilton & Huntington Cairns, PrincetonUniversity Press, Princeton, N. J., 1961. Various Translators; includes theEpinomis & Letters.
Plato’s Republic. 2004. Retrive from http://www.friesian.com/plato.htmon 1st Jan 2011.
Rouse W.H.D. 1984. Great Dialogues of Plato: Translation, edited by Eric H.Warmington and Philip G. Rouse. A signet Clasic.
Ryan, Matthew D. 2010. Plato's Republic: BookV: All Goods Held in Common Among Friends and Philosophers as the Rulers of theState. Retrieve from http://www.associatedcontent.com/article/2503663/platos_republic_book_v.htmlon 1st Jan 2011.
THE DIALOGUES OF PLATO. Vol II, Trans. B. Jowett,Clarendon Press, Oxford, 1871, 1953. The Republic. Geometrical/Nuptial Number& The Number of the Tyrant/State with the following reference toAristotle's remark on this question
|
|
comments (5)
|
|
|
comments (0)
|